pc

Friday, December 9, 2011

Malam Satu Suro, Awal Bulan Penuh Ritual

Jelang pukul 11 Malam Satu Suro, Sabtu (26/11), situasi di Kompleks Kamandhungan Ler atau Keben Kraton Yogyakarta, semakin ramai. Banyak warga Yogyakarta mulai masuk melewati gerbang Keben untuk mengikuti ritual budaya tapa bisu lampah mubeng beteng atau ritual mengelilingi Kompleks Kraton Yogyakarta dilakukan dalam sikap diam (tapa bisu).

Sementara itu, di Bangsal Pancaniti yang tepat berada di tengah halaman kompleks, juga sudah tampak puluhan abdi dalem. Mereka duduk rapi berbanjar, menanti pukul 12 malam, saat ritual akan dimulai. Sembari menanti, tembang tradisional Jawa macapat dilantunkan sehingga menambah suasana khusyuk malam itu.

Beberapa menit jelang tengah malam, masyarakat yang berada didalam Keben  diminta membentuk barisan rapi di timur bangsal.

Sesaat kemudian, Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Joyokusuma datang didampingi empat orang abdi dalem.

Ia menuju Bale Antiwahana, kanopi besar yang terletak di selatan bangsal Pancaniti. Setelah kata sambutan dan memanjatkan doa, upacara pelepasan lalu dimulai.

GBPH Joyokusuma menyerahkan bendera merah putih kepada pemimpin pelaksana sebagai tanda dimulainya ritual mubeng beteng.

Barisan mulai berjalan. Di barisan depan ada delapan orang pembawa bendera. Barisan berikutnya adalah puluhan abdi dalem. Menyusul di belakangnya, ribuan masyarakat Jogja yang antusias mengikuti ritual.

Mereka berjalan dalam sikap bisu, menempuh jarak hingga tujuh kilometer. Beberapa bahkan berjalan tanpa alas kaki. Ritual dilakukan dengan berkeliling dari Kompleks Keben, Jalan Kauman, Jalan Wahid Hasyim, Pojok Beteng Kulon, Jalan MT. Haryono, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswo, menuju Alun-Alun Utaran, hingga kembali lagi ke Kompleks Keben. Suasana begitu khusyuk. Semua hanyut dalam diam hingga tunai sudah ritual malam itu.

Bagi masyarakat Jawa, Satu Suro merupakan penanda dimulainya kehidupan baru. Manusia diingatkan kembali atas kebesaran Tuhan sebagai Empunya kehidupan. Ia diingatkan dari mana asal mulanya (sangkan paraning dumadi).

Oleh karena itu, masyarakat Jawa selama bulan Suro akan banyak melakukan laku tirakat. Tirakat atau menjalani keprihatinan adalah upaya masyarakat Jawa untuk melakukan pembersihan diri, perenungan atau introspeksi, mengucap syukur, serta berharap akan mendapatkan berkah (ngalap berkah).

Tirakat juga dipercaya mampu mempengaruhi jiwa. Seseorang menjadi lebih sabar dalam mengendalikan emosi, serta nafsu. Ia juga menjadi lebih arif dan mampu memaksimalkan energi saat persoalan datang dalam hidupnya.

Bentuk tirakat bisa bermacam-macam misalnya mutih, berpuasa menahan haus dan lapar dan disaat malam tiba atau jelang matahari terbit hanya diperbolehkan mengkonsumsi air putih, dan nasi putih. Ada juga ngeruh atau tidak makan segala sesuatu yang memiliki nyawa seperti daging. Sebab, daging diyakini dapat meningkatkan nafsu pemakannya.

Bulan Suro juga dipandang bulan baik untuk melakukan jamasan yakni, pencucian pusaka seperti keris, kereta, dan perangkat gamelan. Ritual Jamasan biasanya dilakukan di hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon. Di bulan yang sama, beberapa desa juga akan menyelenggarakan upacara bersih desa atau Ruwat Bumi. (Jogjanews.com/Ina Florencys)

setting Table of Contents pada Blogger

 Memasang Table of Contents pada Blogger Secara Otomatis Jika anda pengguna CMS WordPress, tentunya sangat mudah untuk membuat Table of Cont...